Tampilkan postingan dengan label Bocah Petualang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bocah Petualang. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 November 2015

Surga kecil di tengah Sulawesi. [bagian pertama]



Pagi pun tiba, hari baru cerita baru dan saya telah berada di terminal keberangkatan bandara Sultan Hasanuddin untuk melakukan penerbangan tujuan bandara Mutiara, Palu. Sesak terasa meninggalkan semua teman dan kegiatan yang menanti selepas saya pergi. Tetapi semesta berkonspirasi menyeret tubuh ini melewati awan dan lautan kemudian segera menginjakkan kaki ditengah Sulawesi, yang ditempuh selama 1 jam dari Makassar. 

Tempat baru Petualangan baru, mencoba positif thinking dan sedikit menghibur diri. Kedatangan saya ke Sulawesi Tengah bukan untuk liburan (sebenarnya) tapi untuk bekerja. Saya mendapat panggilan kerja di kabupaten Parigi Moutong, yang ditempuh selama 2 jam dari Palu ibukota Sulteng. Tiba di Parigi ibukota Parigi Moutong, saya langsung ingin pulang karena harapan tak sesuai dengan realita. “ini mah desa, duh bisa dapat apa disini” bisikku dalam hati. Terang saja, bayangan kota yang ada dalam pikiranku sama sekali tidak terlihat, yang ada justru hamparan sawah yang luas mengapit jalan poros trans Sulawesi, jalanannya sepi khas jalan antar daerah, tapi setidaknya terbebas dari kemacetan kota  di tempat saya dulu, Namun tetap saja hati saya sendu. 

Hari berganti, tak terasa sudah 3 minggu berada di Parigi, punya teman meskipun hanya teman kantor namun mereka tak suka berolahraga atau sekedar jogging ke alun-alun ataupun melakukan kegiatan outdoor yang saya gemari. Merasa sendiri di kota orang menuntut saya harus bisa mengusir sepi yang datang, alhasil 3 minggu pertama saya habiskan dengan membaca buku atau menonton film, itu jurus jitu pengusir sepi sih.haha 

Minggu keempat, saya sudah mulai bosan dengan rutinitas yang tak kunjung berubah, akhirnya saya mencoba jogging ke alun-alun namun tetap saja nalar saya masih membandingkan keadaan sekarang dan dahulu. Di kota tempat saya jogging dulu track larinya bagus dikelilingi pohon-pohon yang tidak akan membuatmu panas kena sinar matahari, bertemu teman-teman, belum lagi cuci mata karena para lelaki kece yang ikutan jogging, Bandingkan dengan tempat jogging saya sekarang dipinggir jalan, jogging sendiri, panas kena sengatan matahari, Tapi tetap saja saya harus membiasakan diri berdiri tanpa bergantung pada orang lain itulah satu tahap kehidupan yang harus dilalui semua orang dewasa. Terima, nikmati, lalui dan bersyukur. Tak terasa sudah 3 bulan saya berada disana. 

Bulan ketiga, memasuki bulan Agustus tiba-tiba om saya mengajak untuk ikut beliau ke desa lain dalam rangka peresmian sebuah tugu, ajakan om langsung saya terima saat itu juga meskipun tidak mengerti tujuan kesana. Perjalanan ke desa itu ditempuh sekitar 5 jam dari Parigi, lumayan membuat saya pusing dengan sedikit berkelok-kelok tapi didominasi jalan yang lurus kok, Cuma saya memang mabok darat. Hhaa
Akhirnya tiba dengan selamat sampai di desa Tinombo, istirahat sejenak, makan dan menuju pulang. Saya sempat bingung, namun ternyata tadi saya ketiduran pas mobil kami melewati tugu tempat tujuan kami. Tugu itu terletak sebelum Tinombo tepatnya di desa Khatulistiwa, karena kurangnya penginapan disana maka kami terpaksa beristirahat di Tinombo yang letaknya ditempuh 45 menit setelah desa itu.  

Sampai di desa Khatulistiwa, tugunya masih dibungkus dengan kain menanti kedatangan menteri yang meresmikan dan menanggalkan kain penutupnya. Acara peresmian tugu itu dirangkaikan dengan perkemahan pramuka yang diikuti oleh seluruh SMA se-Parigi Moutong. Tiba dipuncak acara Menteri yang ditunggu pun tiba, saya masih penasaran dengan tugu itu, “tugu apasih itu? Sampai harus tunggu seorang menteri dulu”ketusku, sesaat  pembawa acara kemudian berkata “kita hitung mundur untuk peresmian tugu khatulistiwa ini, 4 3 2 1, tugu khatulistiwa telah diresmikan oleh bapak menpora Roy Suryo” segenap tepuk tangan riuh bergemuruh oleh ratusan orang yang berkumpul disitu. Hal ini sangat bertolak belakang dengan realita yang saya dapatkan ketika menonton pertandingan AcMilan Glorie di stadion GBK, Jakarta. Ketika itu pembawa acara mendengungkan nama menpora, serentak stadion bergemuruh mengejek sang menteri, bukan tepuk tangan melainkan gemuruh suara huu dan jempol yang dibalik kebawah, maka kali ini saya hanya tersenyum saja. Realita ini, mengajarkan saya bahwa tidak semua orang bisa menerimamu meskipun kamu telah berbuat baik menurut takaranmu. Kita hanya perlu melakukan apa yang terbaik buat diri kita, tepuk tangan dan cibiran hanya menjadi hiasan saja, yang penting kita meninggalkan dampak yang berguna bagi orang lain. (seloroh hati)

Terlepas dari pembelajaran seorang menteri,  saya cukup kaget ternyata daerah yang tidak pernah masuk dalam daftar tempat yang ingin saya kunjungi, dilewati oleh garis Khatulistiwa sang equator, sekedar informasi sang equator ini hanya melewati beberapa wilayah di dunia, di Indonesia sendiri hanya melewati beberapa daerah saja salah satunya di desa Khatulistiwa, Parigi Moutong yang merupakan satu-satunya daerah di pulau Sulawesi yang tepat dilewati sang equator ini. Konon katanya jika kita meletakkan telur dipusat tugu ini maka posisi telur bisa tegak lurus, dan  lagi jika kita berdiri di dekat tugu itu maka bayangan kita tidak kelihatan, tetapi semua itu bisa terjadi saat matahari benar-benar berada satu garis lurus diatas permukaan bumi. Selain itu, mengutip kalimat pak Roy Suryo bahwa masyarakat yang berada dibawah garis khatulistiwa lebih mudah mengakses informasi karena lebih dekat 36 ribu km dari garis khatulistiwa yang merupakan letak objek stasioner. Suatu kebetulan yang tidak biasa berada tepat dibawah Zamrud khatulistiwa. Maka tanpa pikir panjang besoknya saya mengabadikan tugu titik nol itu, kemudian nalar saya pun bertanya jika suatu tempat bisa dilewati garis khatulistiwa maka flora, fauna dan pesona alam yang tumbuh dan hidup disana pastilah tidak biasa juga. 
Hmm, ini baru bagian pertama petualanganku disini selanjutnya ada di surga kecil di tengah Sulawesi bagian  kedua. Ciao.. 


Selasa, 19 Agustus 2014

TERIMA KASIH FRESHCONE



“ mata adalah jendela hati”- anonym

Dari mata turun ke hati pepatah yang sering saya dengar ketika membahas suatu objek yang memang awalnya hanya tertangkap mata.. yaitu keindahan..

Keindahan bumi Nusantara yang Tuhan telah anugerahkan dan titipkan kepada kita putra dan putri Indonesia bukan hanya untuk dijaga,dipelihara,dilestarikan tapi lebih dari itu untuk mengenalnya lebih dekat menyatu dengannya lebih dalam bermain bersamanya bahkan bercinta dengan alam yang romantis ini.

Maka bersyukurlah yang bisa melihat dan menikmati keindahan alam yang dianugerahkan Tuhan, dan untuk saya pribadi saya sangat bersyukur meskipun retina saya sudah tidak dapat menangkap cahaya dengan maksimal alias saya memerlukan sebuah kaca cekung agar bisa melihat dengan jelas. Maka sejak SD kelas 5 saya menggunakan kacamata minus yang menjadi sahabat saya sehari-hari dalam melihat segala sesuatu yang tertangkap mata.

Seiring bertambahny usia, bertambah pula minus saya maka semakin tebal kaca cekung saya, tapi saya bersyukur saya masih bisa melihat dengan jelas keindahan hidup yang saya lewati dengan bantuan kaca cekung ini.

Usia bertambah seiring pemaknaan akan hidup yang sudah tidak anak-anak lagi, saya belum tua tapi tidak juga anak-anak pun remaja, mungkin bisa dibilang anak remaja tanggung yang sedang dalam titik batas menuju tua dan dewasa sesungguhnya, namun saya tetap suka berjiwa anak-anak, punya semangat anak-anak, curious seperti anak-anak, bergembira seperti anak-anak, tapi hidup yang telah saya lewati membentuk hati dan pikiran saya menjadi dewasa maka jadilah anak-anak yang dewasa dalam diri saya dan saya menyukai diri saya,,hihhihi (narsis dikit boleh dong haha)

Okeh saya sebenarnya mau membahas Freshcone softlens andalan saya di 2 tahun belakangan ini, tapi begitulah ketika bertemu Word saya suka tidak focus dengan kalimat-kalimat saya yang lari sana-sini baru tiba di tujuan, mungkin sedikit menggambarakan saya..hahahhaa

FRESHCONE softlens andalan saya yang dapat dibeli di optik terdekat ini, awalnya dipake oleh teman saya Brigita kemudian dia merekomendasikan kepada kami karena menurutnya nyaman dipakai,tipis dan tidak mudah kering dimata.. thanks Brigittt..

Setelah saya beli dan mencobanya ternyata benar sekali saya akhirnya menjadi pelanggan setia freshcone untuk kebutuhan kantor saya yang melarang menggunakan kacamata. Bahkan saya pernah dipanggil ke ruangan bos hanya untuk disuruh pake softlens dan di suruh berdandan… Hahhaa parah.. 

Tetapi Freshcone tidak hanya berfungsi di kantor dan mall saja, ternyata softlens ini bisa di pake di alam liar juga dan konsisten sangat nyaman di mata.

Bayangkan saya berenang dilaut lepas menggunakan Freshcone tanpa kacamata renang, saya melompat dari dermaga yang tingginya sekitar 5 meter masuk ke dalam air dengan kedalaman sekitar 5 meter juga tetapi pada saat saya buka mata aman-aman saja bahkan tidak mengalami iritasi merah dan lain sebagainya. tentunya saya menutup mata saya di dalam air..air laut meeennn asin..haha

Nah dari pantai saya kemudian menuju hutan yang ditempuh sekitar 15 menit saja dari pantai, asikkkkkk sekaliiii jadi bolanggg !!!! hahaha

Tiba di Hutan saya menemukan sungai yang punya banyak air terjun, tidak mungkinlah saya tidak menikmati aliran air bening dan segar disana. Seperti bolang saya senang sekaliiiii !! keindahan alam yang tertangkap jelas dengan bantuan Freshcone , saya meluncur seperti di luncuran di air terjun itu kemudian terisap masuk kedalam air, muncul ke permukaan dan si Freshcone aman-aman saja.. ihiyyyyy saya bisa melihat jelas kembali setelah muncul ke permukaan, bayangkan jika saya pakai kacamata saya harus melepasnya dulu titip pada teman kemudian pas muncul ke permukaan buram semuanya :(( 

Oleh sebab itu saya sengaja menulis Terima Kasih freshcone Softlens andalan yang serba bisa, saya bisa menikmati keindahan alam yang tertangkap retina saya dengan jelas meskipun tanpa kacamata, saya bisa masuk ke dalam air tapi tidak ada iritasi dimata saya.

Freshcone baik-baik yah jangan nakal, biar kita selalu bersama saya janji akan mengajakmu ke tempat-tempat yang indah dimana tidak semua orang bisa melihat itu. Salam Lestari !





Sabtu, 26 Juli 2014

RAMMA’ KEINDAHAN ALAM DAN JAWABAN GELISAH HATI

Disini kuberdiskusi dengan alam yang lirih kenapa matahari terbit menghangati bumi…disini kuberdiskusi dengan alam yang lirih kenapa indah pelangi tak berujung sampai kebumi..cahaya bulan menusukku dengan ribuan pertanyaan yang takkan pernah kutahu dimana jawaban itu,,bagai letusan merapi bangunkanku dari mimpi sudah waktunya berdiri mencari jawaban kegelisahan hati…terangi dengan cinta digelapku ketakutan melumpuhkanku..terangi dengan cinta disesatku dimana jawaban itu ” – CAHAYA BULAN- Original Soundtrack film SOE HOK GIE

Menulis sambil mendengar lagu cahaya bulan dan mengisahkan kembali cerita indah yang terjadi 4 hari yang lalu membuncah kenangan yang tersorot dalam keindahan hutan ..hidup itu menyimak  dan kemudian memaknai sebuah perjalanan panjang yang susah payah ditempuh dan kemudian dibuat indah dengan tulisan.

Yah perjalanan panjang menuju lembah RAMMA’ yang sudah tidak asing ditelingaku dan konon sudah menjadi tempat wisata bagi para anak MAPALA di kota ini..lembah yang membentang dikaki gunung Bawakaraeng ini sungguh indah, tidak hanya lembahnya menginjakkan kaki didesa terakhir di Lembanna sungguh tak terlupakan sesaat kemudian menghantar fantasi menuju kesana kemudian hari.

Lembanna desa terakhir sebelum mendaki dan mencapai lembah Ramma’ desa yang indah dihuni oleh masyarakat yang ramah..sebelum mendaki kami menyusuri jalan terakhir sebelum menanjak. Disamping kanan adalah lahan yang luas tempat bercocok tanam disamping kiri adalah sekolah..yahh anak sekolah disini ke sekolah tanpa seragam..ada baiknya juga mengingat seragam adalah sebuah kejanggalan saat sekolah harus gratis tetapi seragam mereka tak punya.

Anak-anak sekolah di desa Lembanna begitu antusias untuk ke sekolah dengan wajah yang riang dan penuh harapan mereka berlari berkelompok menuju sekolah yang letaknya berada di kaki gunung itu..tawa ceria mereka memberiku semangat untuk menghilangkan ketakutanku yang baru pertama kali mendaki. Pengalaman pertama mendaki tentu saja ada sedikit rasa gelisah kalau saja membayangkan pendakian dan track yang akan dilalui..hehee

mataku kemudian beralih ke sebelah kanan terlihat hamparan lahan bercocok tanam yang dihiasi oleh sawi,daun bawang,benih wortel tersusun rapi terhampar luas dipandanganku sejenak mataku mengambil sudut yang lebih luas lagi betapa indahnya pemandangan yang tersajikan oleh mataku, hamparan kebun menyatu  dengan background pohon pinus yang berdiri kokoh diatas bukit2.. indahh sekali kemudian kutarik nafasku sedalam2nya dan betapa segar udara yang ada disana aku tersenyum dan berbisik TERIMA KASIH TUHAN UNTUK ALAM INDONESIAKU YANG INDAH INI..

Mungjin jika aku bukan orang Indonesia aku tak dapat melihat pemandangan seperti tadi dengan orang-orangnya terutama..akhhh Indah sekali tak sedikitpun hatiku gelisah ataupun merasa ingin pulang ketika berada disana,nyaman,tenang,damai. Penduduk disana sudah sangat merasakan keberadaan kami para pendaki yang akan ke Ramma'.

Akhh..jadi kangen mama. mama’/mace adalah panggilan sayang dari anak Mapala kepada orangtua terkasih kami yang selalu siap sedia rumahnya kami tempati ketika hendak mendaki esok hari..rumahnya biasa saja terbuat dari papan, katanya beliau tinggal bersama anaknya disana tapi sayang keramahan mama’ tak menurun ke anak-anaknya, sampai saat saya pulang tak satupun anak dari mama’ yang bertatap muka dengan saya..tapi yah sudahlah saya bukan mau menjelekkan orang tapi hanya mengutarakan isi hati saja.hehhee

Setelah melewati lahan perkebunan yang indah, bersama tim kami mulai mendaki dengan mini carel yang begitu asiknya nongkrong dipunggung saya..pasti berat..belum lagi berat badan saya .seandainya saya tidak latihan fisik selama hampir sebulan mungkin saya sudah minta pulang padahal baru sampai pos satu…hahahhaha

Mendaki/tracking/hiking…huhhhh suatu hal betul2 baru untuk saya alhasil saya seperti orang yang betul2 dari dunia lain..hahha..kaget,capek bercampur senang..untung saja saya selalu punya semangat..saya selalu berkata dalam hati semangat itu adalah modal utama !! tanpa semangat saya tidak akan sampai di RAMMA’ hahaha

Ketika saya mendaki saya berpikir seandainya saya tidak mampu sampai diujung jalan bagaimana? Bagaimana jika saya hanya bisa sampai di pos 2 dan kemudian pingsan? Badan saya kan besar mana mungkin saya bisa sampai tujuan jalannya saja masih jauhh..mendaki pula..haduhhh…

Plokkk.. berhenti menganggap remeh dirimu sendiri !!! itu yang kemudian membakar semangatku lagi.. saya meneruskan langkahku dengan pasti mengingat jurang yang tidak pernah pindah tempat dari sebelahku..hahaa.. sebentar tidak mengerikan seperti yang dibayangkan jurangnya bersembunyi kok diantara rindang daun pohon dan rantingnya seakan menemani perjalanan sampai ke tujuan..samping kiri kanan pohon pinus, tanaman merambat, bunga-bunga dan siulan burung di udara selaksa menghantar jiwa yang gelisah ini bersorak gembira untuk keindahan alam yang diberikan Tuhan.

Perjalanan berlanjut menyusuri lorong yang sempit diantara bau hutan pinus dan bau tanah basah..akhhh aroma damai yang membuatku tanpa khawatir berjalan terus menyusuri hutan belantara itu senyum yang selalu terpasang dibibirku manakala bertemu dengan Bunga-Bunga Liar yang tumbuh cantik di lorong sempit itu, indah dan memukau yah seperti itulah hakekat manusia akan terus tumbuh dengan makanan yang tersedia dari alam dengan air hujan yang memberi minum..Setelah itu bertugas mencari makna, memancarkan keindahan hingga membuat para pendaki tersenyum ketika melihatnya.. Damai 

Selepas bunga liar, saya membuang pandangan ke Ranting pohon disepanjang lorong sempit itu alam menyediakan ranting pohon.. stop beranggapan bahwa ranting pohon itu hanya bergantung lemah tak berdaya pada pohon, ternyata tidak ! ranting pohon berkali-kali membantu saya untuk mendaki dengan menggenggamnya tubuhku ditarik keatas.. bisa bayangkan bagaimana kuatnya ranting pohon menarik 65kg ditambah mini carel yang ada dipunggungku.. mereka kuat kawan, ternyata mereka tidak selemah yang terpikir selama ini.. dari ranting pohon saya belajar “ jangan pandang enteng orang lain dari asumsimu selama ini, sebelum kau mengajaknya berbicara, sebelum kau mengenalnya lebih dekat” hal ini yang sering terjadi, tidak terhitung berapa banyak orang yang saya cap dari asumsi-asumsi dangkal saya selama ini. Ahahha menertawai diri sendiri itu indah.. tentunya untuk introspeksi diri bukan membuat diri minder..hehee maaf yah.

Berjalan lagi, setelah ranting pohon saya kemudian menatap kebawah sesaat mata saya bertemu dengan Akar pohon, setelah melihat lebih teliti ternyata akar pohon yang berkali-kali membuatku tersandung, hmm..untung saya punya sebatang kayu untuk berpijak dijadikan tongkat. Tanpa akar bisakah pohon hidup? Tanpa akar mereka makan dari mana? bahkan seorang Deelestari menjadikannya judul sebuah novelnya,sayang sekali saya belum membacanya. Tetapi saya tidak mampu seperti Dee dengan filosfi akarnya yang pasti hebat.. agak sok tahu jadinya saya..hahaha… ini tentang akar dan saya.. akar terimakasih kuucapkan padamu telah banyak membantu para pendaki pun juga telah banyak membuat kami tersandung, jika ranting pohon membantu menarikku ke atas, maka Akar membantuku berpijak!! Mereka sangat kuat.. Pohon tanpa akar yang kuat tak akan bisa dijadikan tempat berpijak, pohon tanpa akar pasti akan tumbang.. berpijak kepada akar membuatku merasa lebih aman ketimbang berpijak pada batang pohon, saat mendaki ada track yang dilalui bukan dengan mendaki saja tapi juga memanjat, istimewanya kita disediakan alam penolong yang kuat untuk menopang tubuhku, bahkan menopang tubuh 2 orang karena ketika memanjat saya selalu dibantu, hehe.. akarnya besar seperti batang pohon menjalar di tanah bisa kau bayangkan pohonnya sebesar apa? Tentang akar saya tak bisa berbicara banyak selain berterima kasih yang banyak dan mengaguminya sebagai yang kokoh di hutan liar.

Jalan Setapak. Jalan setapak kecil yang dihiasi daun-daun dikedua sisinya dan akar di bawahnya.. menyusuri jalan ini menegangkan sekaligus membuat bangga diri sendiri..kenapa?? karena ternyata saya bisa melangkah dengan pasti di setapak ini tanpa ragu untuk sampai ke tujuan sambil sesekali melirik jurang yang pun disediakan alam persis disebelah jalan setapak ini. Jalan kecil yang berliku, menanjak, berlubang, penuh akar dan ranting, licin. Lengkaplah sudah menandakan hidup masing-masing orang punya jalannya sendiri dan mungkin jalan hidup saya seperti jalan setapak yang disediakan alam ini. Berkali-kali saya tersandung namun hanya sekali saya jatuh tetapi alam menyediakan Akar dan Ranting untuk membantuku bangkit, jalan setapak yang licin tentu saja harus hati-hati melangkah, jika tergesa-gesa saya pasti jatuh, jalan setapak berlubang pasang mata baik-baik perhatikan langkahmu dan awasi kakimu jangan sampai masuk ke lubang, jalan setapak menanjak mengharuskanku melihat ke atas bukan menengadah ke langit tetapi memperhatikan jalan yang memang tidak datar atau menurun tetapi menanjak naik.. ketika capek , saya  hampir  menyerah dan pulang tetapi saya berpikir ketika saya berhenti maka saya tidak akan bisa menanjak, ketika saya pulang maka yang akan saya lalui penurunan.. akhh saya tidak mau menjadi pecundang yang menyerah begitu saja pada jalan ini. Saya memutuskan untuk meneruskan perjalanan capek ini, tentu saja dengan rasa sakit yang mulai terasa pada kaki saya,”bertahan dan lalui!” pikiran berkata lantang padaku segenap seluruh tubuh bergerak menanjak membakar semangat yang hampir kalah pada jalan setapak ini.

Semangat membakar denyut nadi yang berdetak lebih cepat dari biasanya, memompa jantung hingga arteri pun tak mampu menahan aliran deras yang begitu cepat lari ke otak, tak kuasa tubuh menolak aliran semangat itu hingga patuh pada perkataan otak.

Pikirkan yang jernih seperti aliran sungai di atas gunung yang mengalir dengan tenang diantara pepohonan yang saling bersentuhan  suara burung pun berkicau menampilkan harmoni indah yang tak terbantahkan oleh gendang telinga,..akhh suasana alam Indonesiaku.

Sungai. Bermetafora dengan sungai mengajak saya untuk selalu saja mengikuti alirannya penasaran ujung aliran ini akan kemana..berjibaku dengan arus membuat saya lelah menahan aliran yang tak akan bisa saya bendung.. sungai pegunungan tak seperti sungai yang ada dikota sungai dikota membuat saya mual ketika melihat aliran air yang penuh dengan sampah dan membuat saya tak punya sedikitpun niat untuk main-main kesana. Namun berbeda dengan sungai di gunung, sungai di gunung terlalu jernih untuk dibandingkan dengan air minum dalam kemasan botol, sungai di gunung terlalu indah untuk ditandingkan dengan kanal besar yang dibuat pemerintah..hehh knp kanal?? Hahhaa.. iyaa saya membayangkan kanal buatan pemerintah Belanda yang ada di Belanda sana, kanalnya sampai menjadi tempat transportasi.. kalau kanal di Indonesia adalah tempat sampah.. kembali ke sungai di gunung, airnya yang murni bening dingin, kalau haus tinggal tampung dalam botol dan langsung diminum.,segerrrrrr..

Setelah bertemu sungai saya kemudian mendaki tumpukan batu..hmm mungkin lebih tepatnya sedikit memanjat..hahaa.. melewati tumpukan batu untuk mencapai talung,seperti apa talung itu? tak sedikitpun terbayang olehku saat mendaki kesana, lagi konsentrasi mennn.. wong secara yang saya lalui bukan jalanan,disamping kananku juga bukan kasur jadi kalau jatuh siap-siap menemui ajal bertemu jurang, makanya konsentrasi penuh melalui jalan itu..setelah mendaki tumpukan batu akhirnya saya bisa melihat padang rumput yang datar..akkhh saya selamat..hehehe J

Talung. “ayoo jalan terus, semangat.. nanti kalau sudah di talung semuanya terbayar”

kata sang kakak senior. Dan saya harus mengakui apa yang tertangkap oleh retina saya saat itu..bukan Cuma terbayar, tapi apa ya?..speechless..tanpa kata untuk mengungkapkan keindahan talung..  mahakarya Tuhan!! Ciptaan Tuhan memang indah selalu indah, termasuk Kamu..maka bersyukurlah

Membayangkan melihat sunrise dari talung dan menikmati karya penciptaan..terang dan gelap..akhh akan kesana lagi suatu hari nanti dan berdoa semoga bisa melihat karya agung penciptaan terang oleh sang pencipta .. rindu gugusan gunung yang berbaris rapi dihiasi cahaya mentari yang memberi terang dan tak lupa menyapa awan diatas sana..hehee..kalau ada cowo yang ajak ke talung mau aja yah..dijamin bakalan dapat moment romantis yang tak biasa di atas sana J

Setelah yang indah tersaji saya kembali menemui tantangan itulah hidup bukan hanya merayakan keindahan tetapi menghadapi tantangan..Hello jurang, kali ini bukan jurang yang berselimut daun dan pepohonan lagi, tetapi jurang yang telanjang! Track yang akan dihadapi pun tidak seperti jalan setapak yang sebelumnya..jalan setapak talung betul-betul hanya pas untuk satu orang saja dan berdampingan erat dengan Jurang yang telanjang.. saya takut sekali saat menuruni jalan itu, percaya diri saya lenyap digertak jurang yang seperti siap menerkam saya..namun setelah berlalu dan kembali ke kehidupan nyata justru jurang itu yang bersemayam dalam pikiran saya, jurang itu memberi banyak pelajaran untuk saya, jurang telanjang itu seperti ada disitu untuk suatu tujuan..bagiku jalan setapak talung dan jurang telanjangnya membuatku berhasil memaknai hidup! Membunuh rasa takut, percaya pada diri sendiri,tahu harus melangkah kemana, perhatikan langkah, fokus pada tujuan dan berserah diri pada yang empunya alam.

Perjalanan selalu melelahkan tak pelak membuat sakit namun ketika bisa menghadapi tantangan dan melaluinya, percaya ada sesuatu yang indah disana..

Alam mengajariku banyak hal, alam mengajakku melihat hidup, alam membuatku tak berdaya, alam bersyair begitu romantis padaku.. Alam Indonesiaku aku jatuh cinta padamu..

Tuhan terima kasih atas penciptaanmu 

Makassar July 2013

Stella Miracle